Uji Multikolinearitas, Heteroskedastisitas dan Autokorelasi

Uji Multikolinearitas untuk mengetahui adanya hubungan antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dalam model regresi. Jika dalam model terdapat multikolinearitas maka model tersebut memiliki kesalahan standar yang besar sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan ketepatan yang tinggi. Salah satu cara mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas adalah dengan uji Farrar-Glauber (perhitungan ratio-F untuk menguji lokasi multikolinearitas). Hasil dari Fstatistik (Fi) dibandingkan dengan F tabel. Kriteria pengujiannya adalah apabila F tabel > Fi maka variabel bebas tersebut kolinear terhadap variabel lainnya. Sebaliknya, jika F tabel < Fi, maka variabel bebas tersebut tidak kolinear terhadap variabel bebas yang lain.

Uji Heteroskedastisitas untuk terjadinya gangguan yang muncul dalam fungsi regresi yang mempunyai varian yang tidak sama sehingga penaksir OLS tidak efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar (tapi masih tetap tidak bias dan konsisten). Salah satu cara untuk mendeteksi masalah heteroskedastisitas adalah dengan uji Park. Hasil perhitungan dilakukan uji t. Kriteria pengujiannya adalah apabila t hitung < t tabel, maka antara variabel bebas tidak terkena heteroskedastisitas terhadap nilai residual lain, atau varians residual model regresi ini adalah homogen. Demikian sebaliknya.

Uji Autokorelasi adalah untuk mengetahui adanya korelasi antara variabel gangguan sehingga penaksir tidak lagi efisien baik dalam model sampel kecil maupun dalam sampel besar. Salah satu cara untuk menguji autokorelasi adalah dengan percobaan d (Durbin-Watson). Hasil perhitungan dilakukan pembandingan dengan Ftabel. Kriteria pengujiannya adalah apabila nilai durbin watson < F tabel, maka diantara variabel bebas dalam persamaan regresi tidak ada autokorelasi. Demikian sebaliknya.

Uji Multikolinearitas, Heteroskedastisitas dan Autokorelasi

Pengujian Linieritas Alat Ukur

Pengujian Linieritas Alat Ukur berfungsi atau bertujuan untuk mengetahui apakah alat ukur linier (lurus) atau tidak linier (tidak lurus). Hasil pengujian linieritas yang menunjukkan tidak linier sama artinya data yang didapatkan dari para responden menunjukkan bahwa data yang menjadi alat ukur untuk mengungkapkan masalah pada setiap indikator yang dijadikan kuesioner penelitian kurang konsisten, meskipun indikator-indikator tersebut masih tercakup dalam satu kesatuan konsep operasional variabel. Hal ini berpengaruh terhadap angka standar deviasi (penyimpangan).

Jika hasil pengujian linieritas menunjukkan hasil yang tidak linier maka maka pengolahan data tidak bisa dilanjutkan ke dalam pengukuran pengaruh/hubungan dan pengujian hipotesis. Alasannya, data yang didapatkan dari para responden dianggap kurang konsisten untuk meregresikan variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y). Artinya, data yang di-input untuk membahas hubungan kausalitas (sebab-akibat) di antara variabel yang dikorelasikan bisa dianggap tidak konsisten; atau ratio penyimpangan pada regresi (deviasi) melebihi batas toleran.
Pengujian Linieritas Alat Ukur menggunakan Rumus Persamaan Regresi : Ŷ = a + bX.

Pengujian Linieritas Alat Ukur

Pengujian Homogenitas Varian

Pengujian Homogenitas Varian berfungsi atau bertujuan untuk menunjukkan bahwa unsur-unsur sampel penelitian memang homogen (sama, sejenis) atau tidak homogen. Ketentuan pengujian : Jika keseluruhan responden penelitian (sampel atau sensus) yang dipilih pada saat penentuan sampel penelitian terdiri dari bebarapa unsur (pihak) yang berbeda satu sama lain atau tidak homogen maka hasil pengujian homogenitas harus tidak homogen; dan jika keseluruhan responden penelitian (sampel atau sensus) yang dipilih pada saat penentuan sampel penelitian hanya terdiri satu unsur (pihak) saja maka hasil pengujian homogenitas harus homogen.

Apabila hasil pengujian homogenitas tidak sama dengan keadaan keseluruhan responden penelitian (terdiri satu unsur saja, atau terdiri dari beberapa unsur), maka pengolahan data tidak bisa dilanjutkan ke dalam pengukuran pengaruh/hubungan dan pengujian hipotesis. Alasannya, data yang didapatkan dari para responden dianggap tidak merepresentasikan keseluruhan responden secara benar menurut keadaan yang sebenarnya.

Pengujian Homogenitas Varian untuk mengetahui keragaman atau tidaknya varians sampel yang diambil dari sub-sub populasi yang menjadi subyek penelitian. Hal ini terkait dengan karakteristik para responden yang dijadikan sampel penelitian.

Pengujian Homogenitas Varian

Pengujian Normalitas Data

Pengujian Normalitas Data berfungsi atau bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi data yang didapatkan dari penyebaran kuesioner kepada para responden penelitian yang terdiri dari beberapa stratum (unsure) yang mewakili beberapa pihak (sub populasi) berdistribusi normal atau tidak normal. Berdistribusi normal artinya bahwa jumlah kuesioner yang diberikan kepada masing-masing stratum berlaku secara proporsional menurut jumlah subyek pada masing-masing stratum (sub populasi) - misalnya : stratum pimpinan dan stratum staf.

Pengujian Normalitas Data tidak berlaku terhadap para responden yang ditentukan dengan cara sensus. Selanjutnya, apabila hasil pengujian normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi tidak normal, maka data yang diperoleh dianggap tidak memenuhi persyaratan normalitas penyebaran kuesioner penelitian kepada para responden yang terdiri dari beberapa unsur (sub populasi); dan sebaliknya. Jika penyebaran kuesioner penelitian tidak berdistribusi normal maka pengolahan data tidak bisa dilanjutkan ke dalam pengukuran pengaruh/hubungan dan pengujian hipotesis. Alasannya, penyebaran jumlah kuesioner kepada masing-masing stratum (sub populasi) tidak proporsional.

Pengujian Normalitas dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi pengambilan sampel yang terdiri atas beberapa stratum. Normal atau tidak normal distribusi pengambilan sampel tersebut dapat diketahui dari angka hasil pengukuran koefisien normalitas yang dibandingkan dengan angka pembanding yang ada pada L Tabel. Angka pembanding pada tabel tersebut ditemukan berdasarkan jumlah sample penelitian dan taraf kepercayaan yang dipilih (degree of freedom). Ketentuan Pengujian Normalitas : apabila angka Lhitung lebih kecil dari angka pembanding pada Ltabel (Tabel Nilai Kritis L untuk Uji Liliefors) (Lhitung ≤ Ltabel), maka distribusi pengambilan sampel dianggap normal (proporsional sesuai jumlah pada masing-masing stratum/sub populasi). Konsistensi hasil Pengujian Normalitas ini terkait erat dengan penggunaan rumus pengambilan sampel seperti Stratified Random Sampling Technique atau Stratified Random Proportional Technique.

Pengujian Normalitas Data

Pengujian Reliabilitas Alat Ukur

Pengujian Reliabilitas Alat Ukur berfungsi atau bertujuan untuk mengetahui apakah kuesioner penelitian yang digunakan untuk mendapat data primer dari para responden penelitian layak dianggap reliable (dapat diandalkan) atau tidak reliable (tidak dapat diandalkan).

Pengertian reliable adalah bahwa meskipun kuesioner yang sama diberikan dua kali kepada para responden yang sama namun dalam situasi yang berbeda, kuesioner tidak menimbulkan penafsiran yang tidak jauh berbeda di antara hasil penyebaran kuesioner yang pertama kali dengan hasil penyebaran kuesioner yang kedua kali. Atau tepatnya, kuesioner penelitian mudah dimengerti dan mudah dijawab oleh para responden.

Apabila hasil pengujian reliabilitas alat ukur menunjukkan bahwa data yang diolah tidak reliable, maka pengolahan data tidak bisa dilanjutkan ke dalam pengukuran pengaruh/hubungan dan pengujian hipotesis. Alasannya, data yang diperoleh dari para responden penelitian dianggap tidak dapat diandalkan untuk merepresentasikan masalah atau obyek penelitian.

Pengujian Realibilitas Alat Ukur dapat menggunakan satu rumus statistik dengan Teknik Analysis Alpha Chrombach, Rulon dan Spearman Brown.

Pengujian Reliabilitas Alat Ukur

Pengujian Validitas Instrumen Penelitian

Pengujian Validitas Instrumen Penelitian berfungsi atau bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak item kuesioner penelitian yang valid dan seberapa banyak item kuesioner penelitian yang tidak valid. Valid mengandung pengertian bahwa kuesioner penelitian yang digunakan untuk mendapat data dari para responden yang menjadi sample penelitian dapat dianggap efektif untuk mengungkap masalah atau obyek yang diteliti. Selanjutnya, pengukuran pengaruh/hubungan hanya menggunakan data yang valid saja; dan data yang tidak valid tidak terpakai. Apabila hasil pengujian validitas menunjukkan bahwa data yang tidak valid mencapai lebih 50 persen dari jumlah item kuesioner yang disampaikan kepada para reesponden, maka pengolahan data tidak bisa dilanjutkan ke dalam pengukuran pengaruh/hubungan dan pengujian hipotesis. Alasannya, ratio jumlah data yang valid dianggap tidak dapat merepresentasikan keseluruhan masalah atau obyek penelitian.

Pengujian Validitas Instrumen Penelitian menggunakan rumus statistic Koefisien Korelasi Product Moment. Karena pengujian berlaku atas sekian banyak item kuesioner penelitian, maka teknis penghitungan statistik koefesien korelasi dapat menggunakan Program SPSS for Windows.

Valid atau tidak validnya data yang diuji diketahui dari angka hasil pengukuran koefisien korelasi pada setiap item kuesioner yang dibandingkan dengan angka pembanding yang ada pada Tabel r Kritik Product Moment. Angka pembanding pada table tersebut ditemukan berdasarkan jumlah sample penelitian dan taraf kepercayaan yang dipilih (degree of freedom). Ketentuan Pengujian Validitas : apabila angka penghitungan koefisien korelasi pada setiap item kuesioner lebih besar dari angka pembanding pada Tabel r Kritik Product Moment ( r > table r ), maka item kuesioner tersebut dapat dinyatakan valid; dan sebaliknya. Hasil dari pengujian validitas instrumen tampak dari data mentah yang tersusun dalam Tabel Distribusi Jawaban Responden sebelum dilakukan pengujian, dan data matang yang tersusun dalam Tabel Distribusi Jawaban Responden setelah pengujian.

Pengujian Validitas Instrumen Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Observasi adalah pengamatan langsung ke lokasi penelitian yang dilakukan dengan memperhatikan, mempelajari dan mencatat berbagai hal yang dapat dijadikan obyek penelitian, serta mengumpulkan data sekunder dari berbagai dokumen. Tujuan pendekatan observasi ini adalah untuk memahami berbagai situasi dan kondisi serta keterangan-keterangan yang terjcakup dalam dimensi obyek dan subyek penelitian.

Studi Kepustakaan adalah aktivitas pengumpulan berbagai jenis data sekunder yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengutip berbagai teori dari berbagai buku, mempelajari dan mengutip data dari berbagai dokumen, mempelajari dan mengutip berbagai informasi dari internet dan media cetak. Tujuan studi kepustakaan ini adalah memperoleh rujukan teori-teori yang berguna untuk memahami konstruk variabel-variabel penelitian, memperoleh landasan teoritis untuk menyusun konsep operasional variabel-variabel penelitian, dan memperoleh berbagai data atau informasi yang diperlukan untuk mendeskripsikan obyek atau subyek penelitian.

Kuesioner Penelitian (penyebaran angket) adalah pengajuan pernyataan/pertanyaan tertulis serta pilihan jawaban kepada para responden yang menjadi sampel penelitian. Kuesioner penelitian ini berfungsi sebagai instrumen pengumpulan data primer (data yang langsung dari sumbernya). Pengajuan pernyataan-pertanyaan tersebut disertai dengan pilihan jawaban yang disusun berdasarkan format Skala Likert. Dengan format skala Likert penyusunan Kuesioner Penelitian terdiri dari item Pernyataan variabel bebas X item Pernyataan variabel terikat Y serta Kelompok Pertanyaan Karakteristik Responden untuk disampaikan kepada responden yang menjadi sampel penelitian.

Teknik Pengumpulan Data

Rumus-Rumus Pengambilan Sampel Penelitian

Banyak rumus pengambilan sampel penelitian yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah sampel penelitian. Pada prinsipnya penggunaan rumus-rumus penarikan sample penelitian digunakan untuk mempermudah teknis penelitian. Sebagai misal, bila populasi penelitian terbilang sangat banyak atau mencapai jumlah ribuan atau wilayah populasi terlalu luas, maka penggunaan rumus pengambilan sample tertentu dimaksudkan untuk memperkecil jumlah pengambilan sampel atau mempersempit wilayah populasi agar teknis penelitian menjadi lancar dan efisien.Contoh-contoh praktis pengambilan sampel yang paling banyak digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut :

Rumus Slovin


di mana :
n = ukuran sampel N = ukuran populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel
yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, misalnya 10%.

Rumus Issac dan Michael

Rumus Issac dan Michael dimana :

s = Jumlah sample
N = Jumlah populasi
λ2 = Chi Kuadrat, dengan dk = 1, taraf kesalahan 1%, 5% dan 10%
d = 0,05
P = Q = 0,5

Rumus Sampling Fraction Per Cluster

Rumus sample per cluster
Kemudian didapat besarnya sample per cluster

ni = fi x n

Keterangan :
fi = sampling fraction cluster
Ni = banyaknya individu yang ada dalam cluster
N = banyaknya populasi seluruhnya
n = banyaknya anggota yang dimasukkan sampel
ni = banyaknya anggota yang dimasukkan menjadi sub sampel

Menurut Sugiyono pada perhitungan yang menghasilkan pecahan (terdapat koma) sebaiknya dibulatkan ke atas.

Sugiono mengemukakan cara menentukan ukuran sampel yang sangat praktis, yaitu dengan tabel Krejcie. Dengan cara tersebut tidak perlu dilalukan perhitungan yang rumit. Krejcie dalam melakukan perhitungan sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel yang diperoleh itu mempunyai kepercayaan 95% terhadap populasi.

Tabel Krejcie

N = Populasi S = Sampel (Sugiono, 2005:63)

Rumus-Rumus Pengambilan Sampel Penelitian

Disain Penelitian

Disain Penelitian
Penjelasan :
  1. X1 adalah Variabel Bebas (independent variable) yang diposisikan sebagai variabel antecedent dan diasumsikan berpengaruh terhadap Variabel Terikat.
  2. X2 adalah Variabel Bebas (independent variable) yang diposisikan sebagai variabel antecedent dan diasumsikan juga berpengaruh terhadap Variabel Terikat.
  3. Y adalah Variabel Terikat (dependent variable) yang diposisikan sebagai variabel konsekuensi.
  4. ε (epsilon) adalah variabel-variabel lain yang juga mempengaruhi Y, tetapi tidak diteliti; meskipun tidak diteliti. Meskipun tidak diteliti, namun dari hasil pengukuran koefisien determinasi (r2) kontribusi pengaruh epsilon terhadap Y dapat diketahui, dan dapat dijadikan rujukan untuk membahas kontribusi X terhadap Y.
  5. ρYX1 adalah model pengukuran pengaruh X1 terhadap Y.
  6. ρYX2 adalah model pengukuran pengaruh X2 terhadap Y.
  7. ρYX1X2 adalah model pengukuran pengaruh X1 dan X2 secara bersama-sama terhadap Y


Disain Penelitian

Empat Komponen Utama Metode Penelitian

Empat Komponen Utama Metode Penelitian

Empat Komponen Utama Metode PenelitianSumber Data
Sumber Data Primer Kuantitatif :
Sumber data primer kuantitatif (kumpulan skor jawaban) adalah sejumlah responden yang disebut Sampel Penelitian. Sampel ini diambil dengan cara tertentu dari keseluruhan populasi yang dijadikan subyek penelitian. Sejumlah responden yang dijadikan Sampel Penelitian dipandang sebagai sumber data yang dianggap dapat merepresentasikan masalah yang dijadikan obyek penelitian. Teknik atau cara yang digunakan untuk penarikan Sampel Penelitian antara lain Teknik Pengambilan Sampel Dengan Cara Acak (Stratified Random Sampling Technique), Teknik Pengambilan Sampel Dengan Cara Acak Proporsional (Stratified Random Sampling Proporsional Technique), Teknik Slovin, dan Teknik Kluster. Teknik-teiknik pengambilan sampel ini digunakan bila subyek yang dijadikan populasi penelitian terlalu banyak jumlahnya. Namun bila subyek yang menjadi populasi penelitian jumlahnya tidak mencapai 100 orang, maka sebaiknya digunakan Teknik Sensus (seluruh subyek diambil).

Sumber Data Primer Kualitatif :
Sumber data primer kuantitatif (transkrip wawancara) adalah sejumlah responden yang disebut Informan Penelitian. Informan ini diambil dengan cara tertentu dari para pihak yang karena kedududkan atau kemampuannya dianggap dapat merepresentasikan masalah yang dijadikan obyek penelitian. Teknik yang digunakan untuk menentukan penarikan Informan Penelitian antara lain Purposive Sampling Technique dan Snow Ball Technique. Purposive Sampling Technique adalah cara penentuan sejumlah Informan sebelum penelitian dilaksanakan, dengan menyebutkan secara jelas siapa yang dijadikan informan serta informasi apa yang diinginkan dari masing-masing informan. Snow Ball Technique adalah cara penentuan informan dari satu informan ke informan lainnya yang dilakukan pada saat penelitian dilaksanakan, hingga dicapai sejumlah informan yang dianggap telah merepresentasikan berbagai informasi yang diperlukan. Pencatuman sumber data harus disertai dengan nama dan identitas yang jelas. Contoh identitas : Nama lengkap, Jenis Kelamin, Umur, Pekerjaan/Jabatan, Pendidikan Terakhir.

Sumber Data Sekunder :
Sumber data sekunder (teori, data dan informasi) adalah buku-buku, dokumen-dokumen, internet, dan media cetak. Untuk pengutipan teori, pencantuman sumber data menggunakan runningnote yang meliputi pencantuman last name, tahun penerbitan buku, dan nomor halaman buku. Contoh : jika diletakan dimuka kutipan : Robbins (1999:87) atau Robbins (dalam Thoha, 2001 :32); jika diletakan dibelakang kutipan : (Robbins,1999:87). Untuk pengutipan data, pencantuman sumber data menggunakan footnote yang diletakan di bawah tabel data. Contoh : Sumber : Bappeda Kabupaten Bogor, 2005. Untuk pengutipan informasi, pencantuman sumber data menggunakan runingnote. Contoh : (Harian Kompas, Senin, 2/8/2005) atau http://www.aseansec.org/5804.htm

Jenis Data
Data Primer adalah jenis data yang langsung didapat dari sumbernya. Contoh : Data Primer Kuantitatif didapat langsung dari Sampel Penelitian, Data Primer Kualitatif didapat langsung dari Informan Penelitian.

Data Sekunder adalah jenis data yang tidak langsung didapat dari sumbernya. Contoh : data sekunder dari berbagai buku, dokumen, internet, dan media cetak.

Teknik Pengumpulan Data
Studi Kepustakaan atau Studi Dokumen adalah teknik pengumpulan data sekunder yang meliputi pengutipan dan pengkajian teori, data dan informasi dari berbagai buku, dokumen, internet, dan media cetak.
Kuesioner Penelitian atau Angket adalah teknik pengumpulan data primer dari sejumlah responden yang menjadi sampel penelitian. Penyusunan Kuesioner atau Angket menggunakan format pengskalaan tertentu seperti misalnya Likert Scale (skor 1 sampai 5), Rating Scale (skor 1 sampai 4), atau Guttman Scale (skor 1 sampai 2)
Observasi atau kunjungan lokasi adalah teknik pengumpulan data secara spontan ketika penelitian dilakukan.

Metode Analisis Data
Metode Analisis Kuantitatif adalah teknik pengolahan data kuantitatif (angka-angka) yang menggunakan rumus-rumusan statistik antara lain untuk Pengujian Persyaratan Analisis, Pengukuran dan Pengujian Hipotesis.
Metode Analisis Kualitatif adalah teknik pengolahan data kualitatif (kata-kata) yang dilakukan dalam rangka mendeskripsikan atau membahas hasil penelitian dengan pendekatan analisis konseptual dan analisis teoritik.

Contoh Penyususunan Metode Penelitian
Penerapan Metode Penelitian dalam penyusunan Proposal Penelitian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut :
3.1 Disain Penelitian
3.2 Definisi dan Operasionalisasi Variabel Penelitian
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.4 Teknik Pengumpulan Data
3.5 Metode Analisis Data
3.6 Rancangan Uji Hipotesis
3.7 Jadual Penelitian


Empat Komponen Utama Metode Penelitian

Cara Merancang Metodologi Penelitian

Metodologi Penelitian adalah ilmu yang mempelajari prinsip, prosedur, ketentuan dan cara-cara penelitian yang sekurang-kurangnya mencakup empat komponen utama pengetahuan, yakni pengetahuan tentang pengenalan sumber data serta ketentuan dan cara penarikan sumber data; pengetahuan tentang jenis-jenis dan karateristik data; pengetahuan tentang cara-cara pengumpulan data untuk masing-masing jenis data; dan pengetahuan tentang penerapan metode analisis data untuk masing-masing jenis data. Metode Penelitian adalah prosedur dan teknis penelitian yang dipandang sebagai Operate Point.

Metode Penelitian dalam penyusunan Proposal Penelitian, Tesis dan Disertasi berfungsi untuk menunjukkan sumber data dan menjelaskan jenis data; menjelaskan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk masing-masing sumber dan jenis data; dan untuk menjelaskan metode analisis data yang digunakan untuk mengolah masing-masing jenis data.

Penyusunan Metode Penelitian sama dengan menyusun perencanaan teknis penelitian. Minus disain pengukuran serta definisi dan operasionalisasi variabel penelitian, maka cara mudah memahami rancangan Metode Penelitian adalah dengan memahami empat komponen utama Metode Penelitian, yakni: Sumber Data; Jenis Data; Teknik Pengumpulan Data; dan Metode Analisis Data. Dari keempat komponen utama inilah diperoleh turunan sub-sub komponen yang menunjukan prosedur dan tata cara penelitian yang dipilih dan digunakan dalam penyusunan Proposal Penelitian, Tesis dan Disertasi.

Cara Merancang Metodologi Penelitian

Contoh Hasil Olahan Teori

Judul Penelitian : Pengaruh Implementasi Kebijakan dan Kompetensi Aparatur terhadap Efektivitas Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir di Kabupaten Anu

Variabel Antecedent : Implementasi Kebijakan

Rujukan Teori yang dijadikan landasan teoritik penyusunan konsep penelitian:
Sunggono (1994 : 137) : Implementasi kebijakan “is seen essentially as a technical or managerial problems”.
Edward III ( 1980:2) : Implementing a public policy may include a wide variety of action: issuing and enforcing directives, disbursing funds making loans, awarding grants, signing contracts, collecting data, disseminating information, analyzing problems, assigning and hiring personnel, creating organizational units, proposing alternatives, planning for the future and negotiating with private citizens, business, interest groups, legislative committees, bureaucratic units, and even other counties.

Definisi Konseptual yang diperoleh dari rujukan teori :
Implementasi Kebijakan adalah proses pelaksanaan suatu sistem manajemen serta teknis program pemberdayaan ekonomi ekonomi masyarakat pesisir yang meliputi pengarahan program, pandanaan program, kontrak program, pandataan program, analisis masalah program, pengorganisasian program, penempatan personil program, proposal program, perencanan teknis program, dan negoisasi program.

Dimensi Kajikan dan Indikator Penelitian yang diturunkan dari definisi konseptual :
Dimensi Manajemen Program : Indikator Analisis Masalah Program, Indikator Pengarahan Program, Indikator Proposal Program, Indikator Perencanaan Program, dan Indikator Negoisasi program.
Dimensi Teknis Program : Indikator Kontrak Program, Indikator Pendanaan Program, Indikator Pendataan Program, Indikator Pengorganisasian Program, Indikator Penempatan Personil Program.

Variabel Antecedent : Kompetensi Aparatur

Rujukan Teori yang dijadikan landasan teoritik penyusunan konsep penelitian :
Wooddruffe (dalam Utami 2005:28) : Kompetensi merupakan suatu ”set of behaviour patterns that the incumbent needs to bring to a position in order to perform its task and functions with competence”
Spencer & Spencer (,2002:110) mengatakan : 5 karakteristik kompetensi : Motives, Traits, Self-Concepts, Knowlegue, Skills.

Definisi Konseptual yang diperoleh dari rujukan teori :
Kompetensi aparatur adalah pola perilaku kerja para petugas penyelenggara program dalam melaksanakan tugas dan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang mencakup 5 karakteristik kompetensi yaitu motivasi, watak, sikap, pengetahuan, dan ketrampilan kerja

Dimensi Kajian dan Indikator Penelitian yang diturunkan dari definisi konseptual :
Dimensi Motivasi : Indikator Motivasi Berprestasi, Indikator Motivasi Berafiliasi.
Dimensi Watak : Indikator Pandangan Kerja, Indikator Sikap Kerja.
Dimensi Konsep Diri : Indikator Penampilan Diri, Indikator Sosialisasi Diri.
Dimensi Pengetahuan : Indikator Pengetahuan Administrasi Program, Indikator Pengetahuan Manajemen Program.
Dimensi Ketrampilan : Indikator Ketrampilan Teknis Sosialisasi Kebijakan Program, Indikator Ketrampilan Teknis Pengendalian Program.

Variabel Konsekuensi (dependent variable) : Efektivitas Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Anu

Rujukan Teori yang dijadikan landasan teoritik penyusunan konsep penelitian :
Ravianto (1989:113) : Efektivitas adalah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauhmana orang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang diharapkan. Ini berarti bahwa apabila suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya maupun mutunya, maka dapat dikatakan efektif.

Definisi Konseptual yang diperoleh dari rujukan teori :
Efektivitas Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir di Kabupaten Anu adalah proses pelaksanaan pekerjaan kerjasama antar pihak yang terkait serta proses pencapaian keluaran program pemberdayaan ekonomi keluarga miskin di wilayah pesisir Kabupaten Anu yang sesuai dengan harapan sebagaimana tersusun dalam kebijakan atau perencanaan program tersebut.

Dimensi Kajian dan Indikator Penelitian yang diturunkan dari definisi konseptual :
Dimensi Proses Pelaksana Pekerjaan : Indikator Informasi Pekerjaan, Indikator Komunikasi Pekerjaan, Indikator Koordinasi Pekerjaan, Indikator Supervisi Pekerjaan.
Dimensi Proses Pencapaian Keluaran Program : Indikator Hasil Penyaluran Modal Usaha, Indikator Hasil Pelaksanaan Ketrampilan Usaha, Indikator Pelaksanaan Usaha, Indikator, Indikator Peningkatan Pendapatan, Indikator Kesejahteraan.

Dengan contoh hasil olahan teori yang demikian itu maka diketahui suatu konsep penelitian yang meliputi 3 paket pemahaman konstruk variable penelitian (definisi konseptual), 9 dimensi kajian dan 30 indikator penelitian. Konsep penelitian inilah yang menjadi penentu bobot keberhasilan dalam mengolah fungsi teori, dan sekaligus berfungsi sebagai “jantung” penyusunan Proposal Penelitian, Tesis atau Disertasi.

Bila konsep penelitian itu diarahkan untuk pengukuran pengaruh dan pengujian Hipotesis, maka 30 indikator penelitian yang diperoleh dari rujukan teori yang dijadikan landasan teoritis itu dijadikan 30 item kuesioner atau angket penelitian (pertanyaan tertutup) untuk diberikan kepada para responden yang menjadi sampel penelitian. Sampel (sebagian subyek) atau sensus (seluruh subyek) diambil dari populasi tertentu di lokasi penelitian. Indikator-indikator penelitian yang dijadikan item-item kuesioner penelitian adalah instrumen pengumpulan data primer kuantitatif (data yang langsung didapat dari sumbernya) yang berfungsi untuk menggali masalah-masalah yang merefleksikan karateristik obyek atau variable penelitian.

Bila konsep penelitian itu diarahkan untuk penelitian deskriptif, maka 30 indikator penelitian yang diperoleh dari rujukan teori yang dijadikan landasan teoritis itu dapat dijadikan 30 pokok pertanyaan (pertanyaan terbuka) yang disusun menjadi Pedoman Wawancara untuk diajukan kepada sejumlah orang yang dijadikan Informan Penelitian. Informan Penelitian ada pihak-pihak tertentu yang dianggap dapat merepresentasikan masalah-masalah yang merefleksikan karakteristik obyek atau variable penelitian. Karakteristik atau obyek penelitian yang dimaksud diungkapkan dengan indicator-indikator penelitian. Indikator-indikator penelitian yang dijadikan pokok-pokok pertanyaan adalah instrument pengumpulan data primer kualitatif (data yang langsung didapat dari sumbernya) yang berfungsi untuk menggali masalah-masalah yang tercakup dalam karateristik obyek atau variable penelitian.

Dengan demikian menjadi sangat jelas, bahwa penyusunan konsep penelitian dapat mencakup sekaligus dua jenis penelitian, yaitu penelitian deskriptif (berbasis pada penggunaan metode analisis data kualitatif) dan penelitian pengujian Hiptesis (berbasis pada penggunaan metode analisis data kuantitatif). Pembahasan hasil penelitian dari kedua jenis penelitian itu pun dapat dipadukan. Keterpaduan pembahasan data dengan kedua jenis penelitian tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan analisis konseptual (yang merujuk pada konsep penelitian yang sudah tersusun sebelumnya), dan pendekatan analisis teoritik (yang merujuk pada teori-teori yang dijadikan landasan teoritik).

Penggabungan kedua metode analisis data tersebut dilakukan dengan cara menyelesaikan terlebih dahulu analisis kuantitatif yang berbasis pada penggunaan rumus-rumus statistic hingga diketahui hasil pengukuran pengaruh dan pengujian hipotesis. Setelah itu hasil analisis kuantitatif dibahas lagi dengan analisis kualitatif (deskriptif) secara meluas dan mendalam. Secara praktis, analisis kuantitatif dimaksukan ke dalam penyusunan Sub Hasil Penelitian; dan analisis kualitatif dimasukan ke dalam penyusunan Sub Bab Pembahasan Hasil Penelitian. (Uuuh, gimane nih ogut yang selama ini ude terlanjur gila kualitatif en anti kuantitatif atawa gila kualitatif en anti kuantitatif, termasuk bego dong! – Ilmu itu seluas dunia, dinamis dan indah sekali bila kita memandangnya tidak hanya dari dalam tempurung, meng.)


"Orang tua yang pandai dan bijaksana tidak membatasi pengembangan ilmu pengetahuan yang muncul dari orang muda"

"Orang yang pandai dan bijaksana tidak memaksakan gagasannya kepada orang lain, kecuali orang lain itu tidak mempunyai gagasan yang jelas. Namun itupun harus didasarkan bimbingan yang semakin memperluas wawasan dan keyakinan orang yang dibimbingnya"

Contoh Hasil Olahan Teori

Konstruksi Pemahaman Variabel Penelitian Dalam Penyusunan Konsep Penelitian

Konsep Penelitian adalah suatu perencanaan konsep kajian yang disusun secara terstruktur dengan maksud dan tujuan tertentu berdasarkan hasil eksplorasi teori-teori yang dijadikan landasan teoritik untuk penyusunan Proposal Penelitian, Tesis atau Disertasi.

Konsep Penelitian berfungsi sebagai kerangka acuan, pedoman, dan panduan analisis untuk melaksanakan seluruh rangkaian analisis hingga mencapai tujuan penelitian sebagaimana yang tercantum dalam penyusunan Proposal Penelitian, Tesis atau Disertasi.

Konsep Penelitian yang disusun berdasarkan hasil eksplorasi teori-teori yang dijadikan landasan teoritik dikenal juga dengan sebutan “Kerangka Pemikiran”, “Kerangka Berpikir” atau “Kerangka Konseptual”. Konsep penelitian yang berfungsi sebagai kerangka acuan, pedoman, dan panduan analisis untuk melaksanakan seluruh rangkaian analisis hingga mencapai tujuan penelitian, terdiri dari komponen Definisi Konsepotual Variabel Penelitian, komponen Dimensi Kajian yang terstruktur pada masing-masing variable penelitian, dan komponen Indikator yang diturunkan dari masing-masing Dimensi Kajian. Dalam konteks ini, karena dipandang sebagai suatu perencanaan konsep kajian maka konsep penelitian sesungguhnya belum mencakup penjelasan mengenai hal-hal teknis penelitian sebagaimana yang dideskripsikan dalam bab metode penelitian.

Dengan pemahaman itu, maka penyusunan konsep penelitian harus merupakan tampilan kembali konsep gagasan terhadap fenomena yang dikritisi serta kontruksi pemahaman variabel-variabel penelitian yang diperoleh dari eksplorasi teori-teori yang dijadikan landasan teoritik. Dalam konteks ini, agar tampilan konsep penelitian menjadi jelas, lengkap dan terstruktur secara sistematik ke dalam “Kerangka Pemikiran”, “Kerangka Berpikir, atau “Kerangka Konseptual”, maka konsep penelitian yang utuh dapat dinyatakan dengan gambar Kerangka Gagasan, gambar Kerangka Kajian, dan gambar Kerangka Penelitian, yang dipandang sebagai satu kesatuan pemikiran ilmiah yang telah memiliki landasan teoritis serta dalil yang jelas dan kuat. Ketiga gambar yang dimaksud adalah berikut:

Kerangka GagasanDengan gambar kerangka gagasan yang dikemukakan itu maka gagasan ilmiah yang ingin diaktualisasikan ke dalam proses penelitian untuk penyusunan Tesis atau Disertasi menjadi jelas dan mempunyai konsep pemikiran yang kuat. Kerangka gagasan yang tergambar itu merupakan konsep gagasan tentang kajian hubungan kusalitas (analisis hubungan sebab-akibat). Perancangan konsep gagasan ini sudah harus dimulai dari entry point dan starting point yang didasarkan pada suatu premise major, dalil atau argumen. Konsep gagasan yang demikian itu kemudian secara tegas dinyatakan dengan Hipotesis (statement). Hipotesis yang diajukan peneliti adalah jawaban sementara atau jawaban yang belum tentu benar terhadap apa yang diasumsikan peneliti. Konsep gagasan tidak hanya menunjukkan konsekuensi penggunaan metode analisis data, tapi sekaligus juga menjadi acuan untuk menunjukan metode analisis data apa yang harus digunakan.

Selanjutnya, konsep gagasan tentang kajian hubungan kausalitas itu perlu dikembangkan dengan gambar lain yang dapat menunjukkan bagaimana mekanisme hubungan kausalitas itu akan dibahas. Untuk itu, berdasarkan hasil eksplorasi teori-teori yang dijadikan rujukan disusun gambar kerangka kajian yang dapat memperkenalkan bagaimana rangkaian kajian itu akan dilaksanakan.

Kerangka Kajian

Kerangka Kajian
Dengan gambar Kerangka Kajian yang dikemukakan itu, meskipun hanya menyangkut kajian hubungan kausalitas di antara dua variabel, namun dari dimensi-dimensi kajian yang dihubungkan jelas tergambar bahwa kerangka kajian hubungan kausalitas antar variabel dilakukan dengan cara menganalisis mekanisme hubungan kausalitas diantara dimensi-dimensi kajian. Dimensi-dimensi kajian tampak yang terstruktur pada masing-masing variabel dan masing-masing dimensi kajian mencakup sejumlah indikator penelitian. Dimensi kajian ini bisa juga disebut sebagai unit analisis.

Analisis mekanisme hubungan kuasalitas yang digambarkan itu tentu tidak terbatas hanya pada perkara analisis kuantitatif saja, tetapi mencakup juga perkara analisis kualitatif. Artinya, kedua jenis dan fungsi analisis data tersebut dapat berpadu menjadi satu kesatuan proses analisis. Dengan gambar Kerangka Kajian yang ditampilkan maka metode analisis data yang digunakan adalah metode pendekatan analisis kuantitatif dan metode pendekatan analisis kualitatif (double method). Dengan pemahaman kerangka kajian ini, selanjutnya dikembangkan kerangka penelitian yang dapat memperkenalkan suatu perencanaan teknis penelitian. (Bah, macam mana penyusunan tesis aku ini, apa aku harus pakai kedua metode itu, mbah? – Bisa hanya menggunakan metode analisis kuantitatif saja, karena pengukuran dan pengujian hipotesis hanya bisa dilakukan dengan menggunakan metode analisis kuantitatif. Karena itu penyusunan tesis, tidak bisa bisa hanya menggunakam metode analisis kuanlitatif saja. Sebaiknya kedua metode tersebut digabung. Namun penggabungan ini tergantung pada kebijakan program dan maunya otoritas, cok)

Kerangka Penelitian

Kerangka PenelitianDengan kerangka penelitian yang dikemukakan itu, tidak hanya konsep penelitian yang ditunjukkan tetapi ditunjukkan juga titik awal penelitian, proses penelitian dan titik akhir penelitian. Gambar kerangka penelitian menunjukkan pula jenis dan fungsi metode analisis data apa saja yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian. Apabila pengolahan hasil penelitian hanya metode analisis kuantitatif saja, maka komponen metode analisis kualitatif tidak perlu dicantumkan. Untuk penyusunan Tesis, tidak bisa hanya menggunakan metode analisis kualitatif saja, karena pengukuran dan pengujian hipotesis hanya bisa dilakukan dengan menggunakan metode analisis kuantitatif. Karena itu, penyusunan Tesis bisa hanya menggunakan metode analisis kuantitatif saja. Untuk penyusunan Disertasi, sebaiknya kedua metode analisis data tersebut dipadukan, agar hasil penelitian tidak hanya terstruktur, terukur dan teruji tetapi dapat juga dideskripsikan hingga menunjukkan suatu konsep pembahasan yang meluas dan mendalam. Sementara itu, levelisasi pengolahan teori untuk penyusunan konsep penelitian dapat diketahui dari gambar berikut.

Levelisasi olahan teori

 Levelisasi olahan teori

Konstruksi Pemahaman Variabel Penelitian Dalam Penyusunan Konsep Penelitian

Fungsi Teori Sebagai Landasan Penyusunan Konsep Penelitian

Deskripsi teori adalah suatu rangkaian penjelasan yang mengungkapkan suatu fenomena atau realitas tertentu yang dirangkum menjadi suatu konsep gagasan, pandangan, sikap dan atau cara-cara yang pada dasarnya menguraikan nilai-nilai serta maksud dan tujuan tertentu yang teraktualisasi dalam proses hubungan situasional, hubungan kondisional, atau hubungan fungsional di antara hal-hal yang terekam dari fenomena atau realitas tertentu. Dengan menyelam jauh ke dalam deskripsi teori, akan diketahui kekuatan dan kelemahan suatu teori.

Deskripsi teori sebagai suatu konsep gagasan atas suatu fenomena atau realitas tertentu dapat berisi satu atau beberapa gagasan yang mempunyai tujuan tertentu. Konsep gagasan yang dimaksud bisa terdiri dari serangkaian penjelasan terhadap pertanyaan ”Bagaimana membuat ini, bagaimana membuat itu, bagaimana melakukan ini, dan bagaimana melakukan itu.” Sebagai misal, Jhon Dower merancang suatu gagasan tentang modernisasi combro yang tidak hanya berisi oncom saja, tetapi bisa juga diisi dengan daging sapi atau daging ayam yang dicampur dengan keju, agar lebih sesuai dengan selera orang-orang bule. Kemudian Jhon menyusun suatu konsep tentang bagaimana membuat combro gaya barat, serta bagaimana memasarkan combro gaya barat agar menjadi bisnis yang menguntungkan. Inti teori sebagai suatu konsep gagasan adalah hasil serangkaian pemikiran invotif atau kreatif atas suatu fenomena atau realitas tertentu menjadi lebih bermakna, lebih indah, lebih mudah, lebih berguna, atau lebih menyenangkan.

Deskripsi teori sebagai suatu pandangan atas suatu fenomena atau realitas tertentu dapat berisi suatu rangkaian pemikiran kritis yang mempunyai tujuan tertentu. Pandangan yang dimaksud bisa terdiri dari dalil-dalil dalam pemikiran ”Mengapa begitu, karena apa begini, seharusnya begitu, mestinya begini.” Sebagai misal, Jhon Dower berpandangan bahwa yang menyebabkan combro dianggap makanan murah dan menjadi konsumsi orang-orang kampung saja adalah nilai kesederhanaan yang melekat pada materi combro. Nilai combro itu dipandang Jhon sebagai salah satu bentuk pancaran budaya masyarakat kampung. Namun ketika combro itu direaktualisasikan oleh orang-orang kota yang berpandangan dinamis dan kreatif, maka terjadilah pertambahan nilai pada combro itu. Nilai tambah itu antara lain rasa combro yang lebih bervariasi, kemasan combro lebih menarik, combro dijual di kafe-kafe, dan harga jual combro pun meningkat. Reaktualisasi seperti combro ini tampak nyata dari gaya penyajian Kentucky Fried Chiken (KFC). Meskipun sama-sama menjual ayam goreng, namun ayam goreng yang disajikan para pengelola bisnis restoran KFC tentu berbeda dengan ayam goreng yang disajikan di warung-warung pinggir jalan. Dalam konteks ini, konsep pandangan Jhon tentu tidak dibatasi hanya pada fakta masalah, tetapi bisa jauh menerawang ke dalam meta masalah. Dengan penerawangannya itu mungkin Jhon juga mencoba menemukan filosofi masalah. Inti teori sebagai suatu konsep pandangan adalah idealisme dan atau profesionalisme tertentu atas suatu fenomena atau realitas tertentu.

Deskripsi teori sebagai suatu sikap atas suatu fenomena atau realitas tertentu dapat berisi suatu rangkaian kehendak atau kebijakan yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu terhadap suatu fenomena atau realitas tertentu. Kehendak atau kebijakan yang dimaksud tercakup dalam suatu penjelasan, alasan atau dalil-dalil yang bersumber dari pemikiran kritis ”Mengapa begini, mengapa begitu, seharusnya begini, seharusnya begitu; dengan begini jadi begitu, dengan begitu jadi begini.” Sebagai misal, Jhon Dower berkehendak atau mempunyai kebijakan yang menolak dan mengangap penyikapan terhadap suatu fenomena atau realitas tertentu itu tidak benar. Kemudian Jhon mendeskripsikan alasan-alasan atau dalil-dalil untuk tidak membenarkan suatu penyikapan. Tidak hanya itu, Jhon pun merumuskan dan seolah-olah menganjurkan suatu kehendak atau kebijakan yang dianggap lebih benar. Bila sikap Jhon itu terdeskripsi dengan argumentasi yang kuat dan dapat diterima khlayak, maka sikap Jhon itu berkembang menjadi suatu konsep teori. Inti teori sebagai suatu sikap adalah penilaian atas suatu fenomena atau realitas tertentu.

Deskripsi teori sebagai suatu cara atas suatu fenomena atau realitas tertentu dapat berisi serangkaian pemikiran praktis yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Cara-cara yang dimaksud bisa terdiri pola, prosedur dan teknik hingga membentuk suatu sistem untuk menjelaskan, menyatakan dan merangkai ”Apa ini, apa itu, bagaimana ini, bagaimana itu, bagaimana ini.” Sebagai misal, untuk memperlancar dan mempermudah proses suatu pekerjaan, atau untuk melakukan suatu kegiatan, Jhon Dower merancang suatu alat yang dapat digunakan untuk memperlancar dan mempermudah proses pekerjaan, atau untuk melakukan kegiatan tersebut. Karena alat yang dirancang Jhon Dower itu ternyata dapat berfungsi efektif dan memberi manfaat bagi proses penyelesaian pekerjaan atau kegiatan khalayak, maka alat dan penjelasan alat itu berkembang menjadi suatu konsep teori. Inti teori sebagai suatu cara adalah serangkaian pola, prosedur dan teknik atas suatu proses pekerjaan atau kegiatan tertentu hingga terbentuk suatu sistem.

Dari deskripsi konsep teori yang demikian itu dapat ditemukan konsep pemahaman suatu disiplin ilmu yang mencakup berbagai unsur, faktor, bentuk, jenis, sifat, fungsi, prinsip, proses, prosedur, aturan, rumus, atau cara-cara yang terbangun menjadi suatu konstruksi ilmu pengetahuan atau teknologi. Dari cakupan deskripsi teori itu juga dapat ditemukan berbagai dimensi kajian dan indikator untuk menyusun suatu konsep penelitian. Dalam konteks ini, konsep penelitian untuk mengoperasionalisasikan varaibel penelitian terdiri dari definisi konseptual, dimensi kajian dan indikator penelitian. Konstruksi pemahaman fungsi teori sebagai landasan penyusunan konsep penelitian tersusun dalam gambar berikut:

Konstruksi pemahaman teori sebagai landasan penyusunan konsep penelitian


Konstruksi pemahaman teori sebagai landasan penyusunan konsep penelitianKonstruksi pemahaman variabel penelitian

konstruksi pemahaman variabel penelitian


Fungsi Teori Sebagai Landasan Penyusunan Konsep Penelitian

Cara Mengolah Teori Untuk Penyusunan Proposal Penelitian

Teori adalah hasil penalaran logik terhadap suatu fenomena atau realitas tertentu yang dirangkum menjadi suatu konsep gagasan, pandangan, sikap dan atau cara-cara yang pada dasarnya menguraikan nilai-nilai dan tujuan tertentu yang teraktualisasi dalam proses hubungan situasional, hubungan kondisional, atau hubungan fungsional di antara hal-hal yang terekam dari fenomena atau realitas tersebut; dan hasil penalaran tersebut dapat diterima khalayak sebagai suatu disiplin ilmu.

FUNGSI :
Fungsi Teori dalam penyusunan Proposal Penelitian, Tesis dan Disertasi adalah sebagai pengantar pemahaman konstruk variabel penelitian dan landasan penyusunan konsep penelitian rujukan pembahasan hasil penelitian.

Fungsi Teori Sebagai Pengantar Pemahaman Konstruk Variabel Penelitian. Fungsi ini terbentuk dari anggapan bahwa pada awalnya sang peneliti kurang atau mungkin tidak memahami karakteristik obyek atau variabel penelitian yang dikritisinya. Karena itu sang peneliti mempelajari sejumlah teori yang relevan atau dapat memberi ia penjelasan tentang karakteristik obyek atau variabel penelitian secara utuh. Sebagai misal, Jhon Dower van Zhontor seorang candidate doctor antropologi pada Cambridge University bertanya : “What is combro?” – artinya Jhon tidak memahami apa itu “combro”. Namun karena ia sangat tertarik meneliti combro, maka mau tak mau Jhon harus belajar tentang combro. Kemudian ia merujuk berbagai teori combro yang dikemukakan oleh sejumlah pakar combro. Untuk memperoleh pemahaman tentang apa itu combro, maka yang pertama dipelajari Jhon adalah definisi combro. Dari berbagai definisi combro yang ia pelajari akhirnya si Jhon berkata “I see, i see combro is bla bla bla!” Lantas John pun merangkai sendiri pendapatnya tentang combro. Menurut Jhon Dower van Zhontor, combro is traditional snacks of Betawi sociaty, and eeuunak banget. Tidak hanya itu, Jhon juga mampu mendeskripsikan anatomi combro itu secara detail dengan memberi argumen-argumen pada setiap unsur combro yang dianggapnya sangat fungsional untuk merepresentasikan folklore masyarakat Betawi. Dalam konteks ini, definisi atau konsep penjelasan tentang suatu subyek atau obyek penelitian merupakan landasan teoritis untuk memperoleh suatu pengantar pemahaman tentang karakter subyek atau obyek penelitian. (John...jhooon….. emangnye kagak ade lagi variabel yang lain, masa’ combro aje eluh jadiin variabel penelitian – dasar kampungan, luh!)

Dari pengantar pemahaman yang demikian itulah kemudian seorang peneliti menyusun suatu definisi konseptual atas suatu obyek atau variable penelitian menurut apa adanya pendapat orang lain; tapi bisa juga disusun suatu definisi konseptual menurut pemahamannya sendiri. Definisi konseptual atas karateristik suatu obyek atau variable penelitian itu merupakan kerangka dasar untuk membangun suatu konsep penelitian.

Dalam konteks ini, jika sang peneliti ingin melahirkan suatu teori baru, maka ia harus memulai teori baru itu dari kemampuannya merangkai suatu definisi konseptual menurut gambaran karateristik obyek atau variable yang dikritisinya. Sementara itu pendapat-pendapat orang lain hanya dijadikan rujukan untuk merangkai definisi konseptual. Kemampuan merangkai suatu definisi konseptual yang sesuai dengan karateristik suatu obyek atau variable yang dikritisi tidak hanya menunjukkan bobot pemikiran yang logic dan actual tapi sekaligus juga menunjukkan solusi terhadap sulitnya menemukan teori yang dapat dijadikan konsep pendekatan untuk mengungkap karakteristik obyek atau variable secara utuh. Untuk bidang ilmu non eksata yang bersifat dinamis pemikiran seperti ini sangat bernilai bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Selanjutnya, bagaimana merangkai definisi konseptual menurut konsep pemahaman sendiri dapat merujuk pada gambar berikut :

Cara Mengolah Teori Untuk Penyusunan Proposal PenelitianBelum dapat dikatakan sebagai rujukan teori apabila olahan teori hanya sebatas pada pengambilan definisi saja. Mengapa demikian, karena definisi itu baru merupakan pengenalan atau pemberian identitas atas sesuatu yang dijadikan obyek atau subyek ilmu pengetahuan. Artinya, pengenalan definisi harus dilanjutkan dengan deskripsi teori hingga diperoleh suatu konsep pemahaman yang utuh terhadap suatu konsep keilmuan. Dengan mendeskripsikan teori dapat ditemukan berbagai persoalan yang bisa mencakup unsur, faktor, bentuk, jenis, sifat, fungsi, prinsip, proses, prosedur, aturan, rumus, atau cara-cara yang terbangun menjadi satu kesatuan konstruksi suatu disiplin ilmu. Dari persoalan-persoalan disiplin ilmu itulah dapat ditemukan dimensi kajian yang tercakup dalam proses pemikiran teoritis, dan dari dimensi kajian itulah dapat diketahui sejumlah indikator yang tercakup dalam setiap ruang lingkup keilmuan. Sebagai misal, banyak pakar merangkai definisi Motivasi yang agak berbeda antara satu sama lain. Bila dipelajari secara mendalam, definisi-definisi itu mengantarkan kita untuk memahami sejumlah Teori Motivasi seperti Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, Teori Harapan Vroom, Teori Kebutuhan Sosial Mc Clealland dan lain-lain Teori Motivasi. Dari teori-teori yang dikemukakan sejumlah pakar itulah dapat ditemukan dimensi-dimensi kajian untuk menyusun suatu konsep penelitian.

Cara Mengolah Teori Untuk Penyusunan Proposal Penelitian